Pada hari Senin, 31 Agustus 2015, sekitar pukul 13:00 WIB, terlihat puluhan masa mengendarai sepeda motor. Bersama rombongan tersebut juga terdapat orang-orang yang diduga sebagai oknum aparat. Mereka menuju lokasi blok Gunung Hujan, Desa Pameutingan, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya.
Kelompok massa tersebut kemudian melakukan pengrusakan dan pembakaran rumah warga milik Herman. Merusak dan merobohkan rumah mulik Jujum serta merusak dan menjarah rumah mulik Udi. Barang-barang milik Udi yang dijarah berupa alat-alat pertanian dan satu unit telepon genggam.
Beberapa pelaku pengrusakan dan penjarah diidentifikasi merupakan warga sebuah desa yang tidak jauh dari desa Pameutingan.
Berdasarkan konfrensi pers yang dilakukan oleh tim advokasi SPP pada tanggal 7 September 2015 di Mapolres Kabupaten Tasikmalaya, peristiwa perusakan rumah warga tersebut diprovokasi oleh pihak Perhutani karena adanya penangkapanpetani dan buruh tanioleh aparat kepolisian pada hari rabu, 26 Agustus 2015. Para petani dan buruh tani tersebut dituduh telah melakukan pencurian dan pengrusakan kawasan hutan. Perhutani melakukan laporan pada polisi menuduh masyarakat mencuri dan merusak hutan tanpa mampu menunjukan bukti apakah benar kawasan tersebut wilayah kelola yang sah milik Perhutani.
Perhutani mengkambing hitamkan masyarakat. Maling teriak maling. Beberapa bulan yang lalu sekitar bulan Mei atau Juni Perhutani melakukan penebangan pohon Akasia seluas kurang dari 3 hektar dan menghasilkankayu sekitar 70 kubik. Setelah kayu tersebut ditebang dan dipotong-potong, kayu tersebut dibiarkan tergelatak begitu saja di pinggir jalan desa/jalan lingkungan. Hasil penebangan tersebut sebagian telah dijual secara illegal oleh pihak Perhutani, ironisnya Perhutani menuduh masyarakat sebagai pencuri kayu tersebut tanpa ada bukti yang jelas. Demikian disampaikan oleh tim advokasi SPP Tasikmalaya dalam press realese-nya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *